Guest Teacher Program-Okarina

Selama kurang lebih tiga minggu para siswa di Sekolah Kasih Karunia kedatangan tiga tamu dari Canada yakni Ps. Anthony, Ying dan Jannie. Mereka akan melaksanakan program Guest Teacher selama tiga minggu.

Tc. Ying mengajar kelas musik dengan fokus pada instrumen Okarina, dan saat ini ada total 39 siswa yang mendaftar untuk belajar, yang terdiri dari siswa kelas 7 hingga kelas 10. Kelas ini merupakan kelas peminatan yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk memilih apakah mereka ingin mengikuti pelajaran ini atau tidak, sehingga hanya mereka yang benar-benar berminat yang akan terlibat. Tc. Ying adalah seorang pengajar yang sangat berpengalaman, dengan pengetahuan mendalam tentang Okarina dan teknik bermainnya. Ia tidak hanya mengajarkan aspek teknis dari instrumen ini, tetapi juga memberikan motivasi dan dorongan yang diperlukan agar para siswa dapat berlatih dengan baik. Dengan pendekatan yang penuh semangat, Tc. Ying berusaha untuk memastikan setiap siswa merasa termotivasi dan semakin percaya diri dalam memainkan Okarina.

Okarina adalah salah satu instrumen musik tertua di dunia yang masuk dalam keluarga alat musik tiup kayu (flute bejana). Berbeda dengan seruling bambu yang berbentuk tabung, okarina memiliki ruang resonansi tertutup yang unik.

Berikut adalah perjalanan sejarahnya yang membentang ribuan tahun:


1. Asal-Usul Kuno (5.000+ Tahun Lalu)

Akar okarina diyakini berasal dari dua wilayah besar yang berbeda:

  • Amerika Kuno (Suku Maya, Aztek, dan Inka): Mereka membuat alat musik tiup dari tanah liat yang berbentuk hewan atau burung. Bagi bangsa Aztek, alat ini bukan sekadar musik, tapi juga digunakan dalam ritual keagamaan untuk berkomunikasi dengan dewa atau meniru suara alam.
  • Tiongkok Kuno: Instrumen serupa yang disebut Xun sudah ada sejak zaman Dinasti Shang. Xun berbentuk telur dan terbuat dari tanah liat atau keramik, namun secara teknis memiliki sistem penjarian yang sedikit berbeda dengan okarina modern.

2. Masuk ke Eropa (Abad ke-16)

Setelah penaklukan Amerika oleh Spanyol, instrumen tanah liat ini dibawa ke Eropa sebagai benda eksotis. Awalnya, alat ini dianggap hanya sebagai “mainan” anak-anak atau penghibur jalanan karena suaranya yang unik namun keterbatasan nadanya.

3. Revolusi Budrio: Kelahiran Okarina Modern (1853)

Transformasi besar terjadi di Budrio, Italia. Seorang pemuda bernama Giuseppe Donati mengubah “mainan” ini menjadi instrumen musik serius.

  • Ia menciptakan bentuk yang menyerupai “angsa kecil”. Dalam dialek lokal Italia, Oca berarti angsa, dan -ina berarti kecil. Dari sinilah nama Ocarina berasal.
  • Donati menyempurnakan sistem 10 lubang agar okarina bisa memainkan tangga nada diatonis lengkap secara akurat.

4. Perang Dunia & Okarina Plastik

Selama Perang Dunia I dan II, okarina menjadi populer di kalangan tentara karena ukurannya yang kecil, ringan, dan mudah dibawa ke medan perang untuk menghibur diri. Pada masa ini pula, versi plastik mulai diproduksi massal untuk memenuhi permintaan yang tinggi dan menekan biaya produksi dibandingkan tanah liat.

5. Era Modern & Budaya Pop (1998 – Sekarang)

Okarina mengalami lonjakan popularitas luar biasa di era modern berkat video game “The Legend of Zelda: Ocarina of Time” (1998).

  • Game ini memperkenalkan okarina kepada generasi muda di seluruh dunia.
  • Hal ini memicu munculnya pengrajin okarina profesional baru yang menciptakan instrumen berkualitas konser dengan berbagai jenis (pendek, ganda, hingga triple).

Karakteristik Unik Okarina

Berbeda dengan seruling biasa, nada okarina tidak terlalu bergantung pada panjang tabung, melainkan pada rasio luas lubang yang dibuka terhadap total volume ruang di dalamnya. Inilah sebabnya okarina bisa berbentuk bulat atau tidak beraturan namun tetap menghasilkan nada yang jernih.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *